Situbondo Sebagai Ruh dan Jasad Shalawat Nariyah

Home / Kopi TIMES / Situbondo Sebagai Ruh dan Jasad Shalawat Nariyah
Situbondo Sebagai Ruh dan Jasad Shalawat Nariyah Fathullah Uday, Alumni Pondok Pesantren Sumber Bunga, Seletreng, Kapongan Situbondo

TIMESMEDAN, JAKARTADALAM sepuluh tahun terakhir, tidak asing lagi bahwa Kabupaten Situbondo sudah berjuluk, selain Kota Santri, juga disebut Kota Bumi Shalawat Nariyah. Julukan ini bermula dari salah satu cita-cita kiai Penggerak Nahdlatul Ulama (NU) yang juga mursyid Tariqah Naqsyabandiyah, di Kabupaten Situbondo yakni, Hadratus Syekh KH Ahmad Sufyan Miftahul Arifin.

Kiai yang pernah menjabat Rais Syuriah PCNU Kabupaten Situbondo ini termasuk sosok ulama yang selalu terlibat langsung mendinamisasi pemikiran intelektual umat seperti melalui Lailiya’an setiap malam Selasa, pengajian Kitab Ihya Ulumuddin dan Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama. Majelis tersebut menjadi ruang untuk memecahkan masalah-masalah sosial dalam prespektif keagamaan dan menghasilkan produk-produk pemikiran teraktual.

Sebelum wafat di Makkah, Kiai Sufyan telah mewariskan amalan shalawat Nariyah 4444 untuk dimasifkan dan diintensifkan di seluruh pelosok desa di Kabupaten Situbondo. Karena amalan tersebut selain memiliki energi ilhahiyah karena menyambungkan dengan Nabi Muhammad SAW dan kepada Allah SWT, juga memiliki kekuatan yang dapat mengurai persoalan-persoalan sosial.

Setelah Kiai Sufyan wafat, sebagai penerus perjuangannya, mulai dari putranya, KHR Moh Kholil Asad Syamsul Arifin dan para kiai lainnya di Situbondo terus konsisten merawat amalan shalawat nariyah 4444. Bahkan, PBNU turut menyemarakkan kegiatan ini dengan melaksanakan 1 Miliar Shalawat Nariyah sejak Hari Santri tahun 2016 silam. Sebagai apresiasi, Kiai Kholil mengirim surat yang isinya menyebutkan bahwa pembacaan shalawat Nariyah adalah cita-cita dari KH Ahmad Sufyan Miftahul Arifin.

Membumikan Shalawat Nariyah

Skema harmonisasi ulama dan umara di Situbondo berjalan baik. Cita-cita keduanya tertujuh pada umat. Jika ulama berperan mengisi krisis spritual dan moral, maka umara (pemimpin) hadir dalam menata kehidupan sosial dan kesejahteraan umat. Di sini peran besar Kiai Ahmad Sufyan Miftahul Arifin bercita-cita ingin membumikan shalawat nariyah di Situbondo bahkan menggema se-Nusantara.

Sejak kepemimpinan Bupati Situbondo, Dadang Wigiarto-Rahmat pada periode pertama tahun 2010-2015, masuknya tradisi relegius pembacaan Shalawat Nariyah 4444 di setiap event pemerintahan adalah hal baru dan asing, sempat banyak penilaian pro dan kontra. Tidak sedikit yang mengkritik, meski yang menerima lebih banyak.

Membumikan Shalawat Nariyah di Situbondo, bukan hal yang gampang, apalagi masuk dalam kegiatan pemerintahan. Mungkin tampak mudah diterima jika sebatas dimasifkan di kalangan masyarakat Situbondo yang mayoritas warga nahdliyin.

Ironisnya, komentar pahitpun ditujukan kepada pemerintahan Dadang Wigiarto-Rahmat hingga akhir masa jabatannya. Shalawat Nariyah juga menjadi korban tidak harmonisnya situasi politik waktu itu, sehingga dinilai tidak mampu menjadi perekat antar keduanya.

Di Periode 2015-hingga sekarang, Duet Dadang Wigiarto-Yoyok Mulyadi semakin harmonis, pendekatan relegius di pemerintahan semakin kental. Di setiap Jumat dan acara seremonial daerah, Shalawat Nariyah rutin dibacakan. Tidak hanya itu, tamu nasional dan internasioanal disambut dengan shalawat nariyah.

Dikutip dari tulisan Dodik Harnadi, yang sudah ditayangkan TIMES Indonesia dengan judul "Shalawat Nariyah dan Tafsir Uqdah KH Ahmad Sufyan Miftahul Arifin" bahwa sahlawat Nariyah dapat memecahkan 4 belenggu yang diantaranya adalah belenggu politik (uqdat siyasiyah). Dalam rumah tangga pemerintahan juga ada percikan-percikan konflik sehingga dapat terurai baik secara alami dan terorganisir.

Kekuatan Ilahiyah untuk Situbondo

Amaliyah atau tradisi religius (Shalawat Nariyah) tidak hanya menjadi ladang amal ibadah atau amalan ukhrowiyah dalam pengabdian. Jauh dari itu, shalawat Nariyah juga menjadi kekuatan ilahiyah (Intervensi Tuhan) dalam menjalankan roda pemerintahan.

Diketahui, tidak hanya pembacaan shalawat Nariyah, Majelis Majelis Shalawat lainnya seperti Shalawat Bhenning, Shalawat Ahad Pahing bahkan yang dikagumi milenial adalah jemaah Shalawat Syabab, yang sudah merayap dan memadari bumi Situbondo dan hampir setiap malam ada pengajian shalawat.

Di banyak tempat, saat mengisi acara, Bupati Situbondo mengakui bahwa keberhasilan yang sudah diraihnya adalah bantuan energi shalawat Nariyah yang dibacakan di perbagai tempat di Situbondo.

Tahun 2019, Situbondo telah keluar dari status daerah tertinggal berdasarkan keputusan Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI, Nomor 79 Tahun 2019 yang ditetapkan pada 31 Juli 2019. Tidak hanya itu, berbagai prestasi juga diraih.

Walhasil, Situbondo merupakan salah satu wilayah ujung timur di pulau Jawa dalam teritorial NKRI yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT untuk selalu dijaga dan dirawat. Begitu juga di dalamnya telah ada semangat perjuangan (Ruhul Jihad) para ulama NU yang tidak pernah padam dan senantiasa menjadi pengemudi menuju Baldatun Toyyibatun Wa Rabbun Gafur. Kalaupun masih ada kekurangan kekurangan dalam segala hal yang belum bisa diselesaikan, yakinlah bahwa pertolongan lewat barokahnya shalawat Nariyah menjadi paku bumi Nusantara.

* Penulis, Fathullah Uday, Alumni Pondok Pesantren Sumber Bunga, Seletreng, Kapongan Situbondo

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com